Selasa, 04 September 2018

Shibori Te'ye'ng

iniSURABAYA – Membatik tak harus dilakukan dengan cara konvensional. Bahkan dari barang bekas macam kawat kandang pun bisa dihasilkan kain dengan motif menarik.

Kreasi yang diberi nama ‘Anurakti’ inilah yang menghiasi panggung Surabaya International Ethnic and Culture Festival 2018 yang digelar di Atrium Ciputra World Surabaya. Selama sepekan (17-22/7/2018), pentas Surabaya International Ethnic and Culture Festival 2018 menghadirkan kolaborasi industri kreatif dan budaya dari berbagai negara.

Salah satunya adalah koleksi Interim Clothing. “Batik teyeng (berkarat) ini proses pewarnaannya menggunakan barang yang terbuang,” ujar Dibya Adipranata Hody dari Interim Clothing.

Menurut Dibya, untuk satu kandang bisa untuk mewarnai sekitar 50 meter kain. Dan warna yang diperoleh adalah hitam dan keemasan.

Dibya mengaku sempat melakukan eksperimen untuk menghasilkan warna selain hitam keemasan. Dengan menggunakan teh, makan akan diperoleh warna merah.

“Eksperimen memang terus saya lakukan untuk mendapatkan warna-warna selain hitam dan emas. Tetapi hasilnya belum diperagakan di acara ini,” tuturnya.

Batik teyeng ini kemudian dikreasi menjadi busana modest wear ala Jepang dan Korea. Cutting dengan motif Asia modern ini diakui sengaja dihadirkan untuk menarik perhatian penikmat fashion dari mancanegara.

“Ada koleksi yang menampilkan model kimono modern. Acara ini kan disajikan untuk tamu-tamu yang beragam, khususnya delegasi negara asing yang hadir di Surabaya International Ethnic and Culture Festival, jadi diharapkan mereka tidak terlalu asing dengan kreasi busana yang ditampilkan,” tegasnya.

Karena itu busana dengan tema Anurakti ini juga dikombinasi menggunakan tenun khas Bali. “Tetapi gaun ini sebetulnya sangat fleksibel. Artinya, mereka yang muslim pun bisa pakai,” imbuhnya.

Melalui peragaan busana khas etnik Nusantara ini, Dibya berharap cross culture yang rutin digelar oleh Pemkot Surabaya ini tidak hanya ‘bertukar’ kesenian tari. “Selama ini kan masih tukar penari. Penari negara lain dibawa kemari dan sebaliknya penari kita dikirim ke luar (negeri),” bebernya.

Dalam penyelenggaraan momen Surabaya International Ethnic and Culture Festival selanjutnya, Dibya berharap juga ada pertukaran desainer. “Karena itu pula kami dorong para perajin untuk bikin sesuatu yang khas Surabaya agar bisa dibanggakan dan dibawa ke pentas mancanegara,” pungkasnya.

Senin, 27 Agustus 2018

Batik Te'ye'ng Surabaya dikunjungan ISI Yogyakarta

Tanggal 10 Augustus 2018 rombongan 30 mahasiswa dan dosen ISI Yogyakarta berkunjung ke rumah garery batik Te'ye'ng Surabaya, untuk melihat langsung proses pembuatan batik Te'ye'ng khas surabaya.

Sabtu, 25 Agustus 2018

Kamis, 02 Agustus 2018

Workshop batik bareng Friendship Force

Hari ini tgl 2 Agustus 2018 mendapat kesempatan untuk menjadi trainer workshop membatik, berkaitan dengan kunjungan tamu Asing dari Amerika dan Turkey. Ada 12 tamu bule yang belajar membatik. Namun karena keterbatasan waktu maka hanya diajarkan batik lukis dengan sedikit menggunakan canting.

Senin, 02 Juli 2018

Pelanggan Produk Batik Te'ye'ng

Seorang desainer Surabaya yang cukup terkenal, Mas Dibya Hody sering menggunakan produk batik Te'ye'ng sebagai salah satu desain Fashion show nya.

Kombinasi shibori hitam dan Kain Te'ye'ng

Shibori hitam yang di kombinasikan dengan kain Te'ye'ng Original, sangat sesuai, dan indah di lihat.

Fashion show di Shangrila Yangon Myanmar by Dibya Hody

Desainer Dibya Hody menggunakan Kain Te'ye'ng (Rust dyeing Fabric). Produksi Batik Te’ye’ng Surabaya, untuk Fashion show di Myanmar, sebagai perwakilan Indonesia di ajang Asean Fashion Show.
Kombinasi kain polos transparan dengan Kain Te'ye'ng, terlihat anggun dan Mewah.